Skip to main content

Sony DSR-PD117 Short Review

Gambar 1.1 Kamera Sony DSR-PD177
Sony DSR-PD177 adalah salah satu camcorder standar DVCAM yang dikeluarkan oleh perusahaan Sony,Inc. Camcorder ini mengadaptasi format DVCAM yang merupakan standar format SD (Standard-Definition)  untuk kameramen profesional.

Sama seperti camcorder pendahulunya, DSR PD-170, camcorder ini dapat digunakan untuk berbagai macam aplikasi dimana kualitas gambar dapat diandalkan dan bisa dugunakan disegala macam kondisi dan situasi. Camcorder ini memiliki kualitas audio yang lebih baik dibandingkan camcorder pendahulunya. Selain itu kualitas videonya pun sudah lebih baik daripada DSR PD-170 dan memiliki cara pengoperasian yang lebih mudah, termasuk pilihan aksesori agar bisa digunakan diberbagai macam skenario shooting (pengambilan gambar). 




Menurut Mr. Isao Matsufune, Head of Network Systems Product Marketing, Business and Professional Products Asia Pacific, “DSR-PD177P memakai DVCAM format yang sudah menjadi standar SD format untuk professional camcorder. Juga memanfaatkan teknology terbaru dari Exmor Sensor System untuk mendapatkan low light sensitivity yang hanya 1.5lux sehinggal hasil gambar yang di dapat dalam pencahayaan yang minim tetap sempurna. Semua kehebatan ini, di gabungkan dengan exclusive lensa berperforma tinggi G Lens, membuatnya menjadi sebuah kamera yang sangat menyenangkan untuk berkreasi, khususnya di bidang ENG dan Content Production.”


G Lens memiliki beberapa fitur, yaitu

  • 29.5mm wide angle dan 20x optical zoom yang cocok untuk segala macam situasi shooting, seperti landscape dan close-up, dimana jarak menjadi kendala. 
  • 2 extra-low dispersion glass element untuk mengurangi chromatic abberation yang disebabkan oleh perbedaan refraksi cahaya untuk meminimalkan colour fringing
  • Lensa optical yang memiliki kemampuan Exmor Sencory System untuk menghasilkan gambar yang tajam dengan resolusi tingga, namun noise yang minim.
  • 6-blades iris diaphragm untuk membuat visual effect dengan memungkinkan pengguna menambahkan efek blur pada background.
Dengan adanya G Lens dan ditambah dengan kemampuan yang dimiliki camcorder ini, kameramen dapat berkreasi dalam proses pengambilan gambar.


Selain teknologi yang dimiliki lensanya, camcorder ini didukung dengan desain yang ergonomis, zoom, focus, dan iris rings yang dapat dioperasikan dengan mudah. Camcorder DSR-PD177 ini juga memiliki tujuh tombol assign untuk mengakses cepat ke fungsi-fungsi yang sering digunakan dalam berbagai macam kondisi pengambilan gambar. Selain itu, camcorder ini juga memiliki LCD panel 3.2 inch widescreen XtraFineTM dengan resolusi tinggi, yaitu 921.000 pixel sehingga memungkinkan kemudahan dalam mendapatkan gambar yang clear focus. 


Camcorder Sony DSR-PD177 ini berbasis files-based workflow, dimana kameramen dapat memilih untuk merekam footage langsung ke tape atau CompactFlash hanya dengan menyambungkan optional HVR-MRC1K Memory Recording Unit melalui link konektor.


Berikut adalah salah satu film dokumenter yang direkam menggunakan camcorder ini.

Comments

  1. Barang yg sya pesan kemaren suda sya trima pak,trimahkasi sebelumnya sya uda percaya sama agan sekali lagi than"s ya gan semoga toko central kamera sukses kedepannya

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

A Whole New Crazy Thing I Do

Apa kabra semuanya? Kali ini, gw kembali dengan postingan baru, yang mungkin gak terlalu penting. Hehee.. Sekarang ini (9 Maret,red), gw lagi ada di kelas Web Design bersama teman gw, Joni (baca: Kuliah vs. Sekolah) sama Ongki. FYI, Web Design itu adalah salah satu mata kuliah untuk anak DKV dengan peminatan DESAIN GRAFIS. Secara tidak langsung, gw adalah intruder di kelas ini (secara gw kan anak cinema). Gimana ceritanya gw bisa disini? Jadi, abis kelas gw yang terakhir (sekitar jam 11an), gw shooting dulu (set,dah. Bahasanya.. ==') Setelah shooting, gw kan gak ada kerjaan lagi donk. Secara udah gak ada kelas lagi dan gw nunggu padus (kenapa gak pulang aja? klo balik, gw bakal males lagi balik ke kampus) Akhirnya, gw pergi ke perpustakaan kampus gw. Gw berpikir akan menghabiskan waktu disana. Ternyata, gw ketemu sama temen gw, anak padus juga. Akhirnya, gw ngobrol dulu lah sama dia. Nonton film korea, judulnya 100 Days with Mr.Arrogant. Lucu loh filmnya, bagus lagi (jadi promos...

Rambling #1

I've been dreaming about going to South Korea for quite a long time. At first, it's because I heard some K-POP music (no doubt. I remember the first time I take an interest towards K-POP Idol, Big Bang. Stay still though. HAHAHAHAHA). Well, after I watched some of their  TV shows, tried some foods, I've taken a lot of attention (I don't know what I'm talking about in this sentences). Main point is I like it. Their foods, their culture, their scenery (?), their music, their language, their ................. everything. Yeah, I think. I got the to the point where I want to go there. But I don't have anyone to go with, I don't have anyone who will become my friends/tour guide, I don't have korean friends. Huft. =3= Is/are there someone who know korean people that willing to tell me korean culture, especially from their perspective?

Cinta??

Entah kenapa, tiba2 gw kepikiran. Kenapa sii kita jatuh cinta? Lebih tepatnya sama lawan jenis. Ceritanya, gw baru aja pulang dari gereja, bareng temen gw, naek angkot. Pas itu, kebeneran ada kursi kosong di pojok dalem, deket jendela belakang. Akhirnya, gw duduk disitu. Pas angkot jalan, angin sepoi-sepoi gitu, jendela, mulailah GALAU TIME. Gw mikir tentang seseorang di masa lalu gw. Pas lagi mikirin dia, gw denger temen gw ketawa. Pas gw liat, dia ketawa pas ngeliat sesuatu di hpnya. Entah kenapa, gw kepikiran, dia kan ada suka ma seseorang (yg gw gak tau). Kenapa yaa? Dari situ, muncul pertanyaan, kenapa sii kita jatuh cinta? Apa sii cinta itu? Apalagi sama mahkluk yang namanya lelaki atau laki-laki atau pria. Kenapa gitu kita bisa attract sama penampilan mereka, atau apanya mereka. Ada yang bilang, klo ada hormon yang kerja. Tapi, kenapa harus begitu? What is love? Where is love? When we fall in love? Who is love? Why love? How it become love?